Jansem Crossby Manalu’s pages
Just another WordPress.com weblog

GOOD GOVERNANCE

Menurut World Bank, kata governance diartikan sebagai “the way state power is used in managing economic and social resources for development society”. Dari pengertian di atas diperoleh gambaran bahwa “governance”, yakni cara bagaimana kekuasaan negara digunakan untuk mengelola sumberdaya-sumberdaya ekonomi dan sosial guna pembangunan masyarakat. Cara lebih menunjukan pada hal-hal yang bersifat teknis.
Sejalan dengan pendapat World Bank di atas, UNDP mengemukakan definisi Governance sebagai: “the exercise of political, economic anf administrative authority to manage a nation’s affair at all levels”. Dengan demikian kata governance berarti penggunaan atau pelaksanaan, yakni penggunaan kewenangan politik, ekonomi dan administratif untuk mengelola masalah-nasalah nasional pada semua tingkatan. Disini tekanannya pada kewenangan, kekuasaan yang sah atau kekuasaan yang memiliki legitimasi. Berbicara kewenangan berarti menyangkut domain sektor publik.
Menurut UNDP.governance didukung oleh tiga kaki yakni politik, ekonomi serta administrasi. Kaki pertama, yaitu tata pemerintahan di bidang politik dimaksudkan sebagai proses-proses pembuatan keputusan untuk formulasi kebijakan publik, baik dilakukan oleh birokrasi sendiri maupun oleh birokrasi bersama-sama politisi. Partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan tidak hanya pada tataran implementasi seperti yang selama ini terjadi, melainkan mulai dari formulasi, evaluasi sampai dengan implementasi.
Kaki kedua, yaitu tata pemerintahan di bidang ekonomi meliputi proses-proses pembuatan pembuatan keputusan untuk memfasilitasi aktivitas ekonomi di dalam negeri dan interaksi di antara penyelenggara ekonomi. Sektor pemerintahan diharapkan tidak terlampau banyak terjun secara langsung pada sektor ekonomi karena akan dapat menimbulkan distorsi mekanisme pasar. Sedangkan kaki ketiga, yaitu tata pemerintahan di bidang administrasi adalah berisi implementasi proses kebijakan yang telah diputuskan oleh institusi politik (LAN & BPK,2000 : 5)
Menurut UNDP,governance atau tata pemerintahan memiliki tiga domain, yaitu:
1) Negara atau pemerintahan (state);
2) Sektor swasta atau dunia usaha (private sector);
3) Masyarakat (society)

Ketiga domain tersebut di atas berada di dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Sektor pemerintahan lebih banyak memainkan peranan sebagai pembuat kebijakan, pengendalian dan pengawasan. Sektor swasta lebih banyak berkecimpung dan menjadi penggerak aktivitas di bidang ekonomi. Sedangkan sektor masyarakat merupakan objek sekaligus subjek dari sektor pemerintah maupun sektor swasta. Karena di dalam masyarakatlah terjadi interaksi di bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya.
Governance yang dijalankan ketiga domain tersebut tidak sekedar jalan melainkan harus masuk kategori yang baik (good). Perpaduan antara kata good dan governance menimbulkan kosa kata baru yaitu good governance, yang dewasa ini sangat popular.
Ciri Tata Pemerintahan yang baik:
1) Mengikutsertakan semua masyarakat
2) Transparan dan tanggung jawab
3) Efektif dan adil
4) Menjamin adanya supremasi hukum
5) Menjamin bahwa prioritas-prioritas politik, sokial, dan ekonomi didasarkan pada konsensus masyarakat
6) Memperhatikan kepentingan mereka yang paling miskin dan lemah dalam proses pengambilan keputusan menyangkut alokasi sumber daya pembangunan.

Berkaitan dengan good governance, UNDP mengajukan sembilan karakteristik sebagai berikut:

1) Partisipasi (participation)
Sebagai pemilik kedaulatan. Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban untuk mengambil kewajiban untuk mengambil bagian dalam proses bernegara, berpemerintahan serta bermasyarakat. Partisipasi berikut dapat dilakukan secara langsung maupun melalui institusi intermediasi seperti DPRD, LSM dan lain sebagainya. Partisipasi yang diberikan dapat berbentuk buah pikiran, dana, tenaga maupun bentuk-bentuk lainnya yang bermanfaat. Partipasi warga negara dilakukan tidak hanya pada tahapan implementasi, tetapi secara menyeluruh mulai dari tahapan penyusunan kebujakan, pelaksanaan, evaluasi serta pemanfaatan hasil-hasilnya.

2) Penegakan hukum (rule of law)
Good governance dilaksanakan dalam rangka demokratisasi kehidupan berbanga dan bernegara. Langkah awal penciptaan good governance adalah membangun sistem hukum yang sehat, baik perangkat lunaknya, perangkat kerasnya maupun sumber daya manusia yang menjalankan sistemnya.

3) Transparansi (transparency)
Salah satu karakteristik good governance adalah keterbukaan. Karakteristik ini sesuai dengan zaman yang serba terbuka akibat adanya revolusi informasi. Keterbukaan terebut menyangkut kepentingan public mulai dari proses pengambilan keputusan, penggunaan dana-dana publik sampai pada tahap evaluasi.

4) Daya tanggap (responsiveness)
Sebagai konsekuensi logis dari keterbukaan, maka setiap komponen yang terlibat dalam proses good governance perlu memiliki daya tanggap terhadap keinginan maupun keluhan para pemegang saham (take holder). Upaya peningkatan daya tanggap tersebut terutama ditujukan pada sektor publik yang selama ini cenderung tertutup, arodan serta berorientasi pada kekuasaan. Untuk mengetahui kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh sektor publik, secara periodik perlu dilakukan survey umtuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen (costumer satisfaction).

5) Berorientasi pada consensus (Consensus Orientation)
Di dalam good governance, pengambilan keputusan maupun pemecahan masalah bersama lebih diutamakan berdasarkan konsensus yang telah diputuskan bersama.

6) Keadilan (equity)
Melalui prinsip good governance, setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan. Akan tetapi karena kemampuan masing-masing warga negara berbeda-beda, maka sektor publik perlu memainkan peranan agar kesejahteraan dan keadilan dapat berjalan seiring jalan.

7) Keefektifan dan Efiiensi (Effectiveness and Effuciency)
Agar mampu berkompetisi secara sehat dalam percaturan dunia, kegiatan ketiga domain dan governance perlu mengutamakan efektivitas dan efisiensi dalam setiap kegiatan. Tekanan perlu efektivitas dan efisiensi terutama ditujukan pada sektor publik karena sektor ini menjalankan aktivitasnya secara monopolistik. Tanpa adanya kompetisi tidak akan tercapai efisiensi.

8) Akuntabilitas (accountability)
Setiap aktivitas yang berkaitan dengan kepentingan publik perlu mempertanggungjawabkannya kepada publik. Tanggung gugat dan tanggung jawab tidak hanya diberikan kepada atasan saja melainkan juga kepada para pemegang saham (stake holder).

9) Visi strategis (strategic vision)
Dalam era yang berubah secara dinamis seperti sekarang ini, setiap domain dalam good governance perlu memiliki visi yang strategis. Tanpa adanya visi semacam itu maka suatu bangsa dan negara akan mengalami ketertinggalan.

Birokrasi

Birokrasi adalah suatu konsep atau istilah yang sudah melekat dan popular di dalam negara dan pemerintah. Tokoh pertama yang memperkenalkan birokrasi adalah Max Weber. Weber sendiri tidak pernah memberikan definisi tentang birokrasi karena kaijian dan ruang lingkupnya studi birokrasi ini sangat luas dan kompleks yang berdimensi politik, sosial, budaya, agama dan ekonomi. Weber memberikan argumen bahwa kemunculan birokrasi sebagai organisasi formal dalam tatanan masyarakat modern sebagai reaksi terhadap ketidakpuasan model sitem otoritas yang berlaku dan dibangun sebelumnya oleh rezim-rezim penguasa terdahulu. Yang dikedepankan adalah suatu ciri masyarakat modern yang lebih mengedepankan aspek-aspek legal rasional yang merupakan ciri dari masyarakat barat. Pada waktu itu sebagai jawaban atas kebobrokan sitem penguasaan atau pemerintahan yang dibangun sebelumnya yang cenderung bersifat otoriter dan tidak demokratis. Namun untuk sedikit memberi gambaran apa dan bagaimana mengenai birokrasi. Dibawah ini ada pemahaman-pemahaman penting yang bisa dijadikan referensi untuk memahami birokrasi.
Secara etimologis, birokrasi berasal dari kata Bureau : meja, dan Cratus/cratein: kekuasaan. Penguasaan oleh biro atau tempat bekerjanya para pejabat.
Ciri-ciri birokrasi:
a) Pembagian tugas atau pekerjaan. Setiap pegawai harus memiliki spesialisasi pada bidang-bidang tertentu. Sehingga setiap aparat birokrasi memiliki kejelasan fungsi, wewenang, dan tanggung jawab.
b) Hubungan dalam birokrasi berifat impersonal (harus hubungan yang bersifat resmi) untuk menghindari adanya hubungan yang bersifat personal.
c) Adanya sistem hirarki jabatan yang menunjuk adanya tingkatan kedudukan yang dimiliki oelh seseorang. Semakin tinggi posisi seseorang berarti memiliki wewenang dan tanggung jawab yang lebih luas atau tinggi, dan itu berarti berkaitan dengan sistem imbalan atau penghargaan yang harus diterima oleh pegawai atau aparat yang bersangkutan.
d) Rekruitmen pegawai didaarkan pada kecakapan, keahlian dan kualifikasi pendidikan tertentu karena kerja birokrasi tidak dilakukan dengan cara asal tetapi mengarah dan melandaskan pada profesionalisme. Artinya kerja seseorang harus memenuhi standar kualifikasi tertentu baik standar kualitas waktu yang sudah ditentukan.

Birokrasi merupakan satu institusi yang melambangkan era modernisasi. Salah satu ciri masyarakat modern meletakkan segala kegiatan dalam hubungan antara masyarakat, negara, pemerintah maupun sektor swasta didasarkan pada aspek rasionalitas. Pemahaman rasionalitas mengandung makna yaitu, setiap tindakan birokrasi dan masyarakat harus berorientasi pada efektivitas dan efisiensi kerja sehingga setiap tindakan atau keputusan yang diambil harus dipertimbangkan secara matang sehingga apa yang diharapkan dapat tercapai.
Birokrasi alat kekuasaan paling utama melalui otoritas atau dominasi yang dimiliki yaitu untuk mambagi atau mendistribusikan bahkan untuk memaksakan kekuasaan tersebut kepada masyarakat agar masyarakat patuh dan tetap loyal pada pemerintah atau birokrasi tersebut. Oleh karenanya jangan heran bahwa birokrasi sebagai suatu organisai formal dan rasional yang sangat komplek dan luas jangkauannya meliputi seluruh sektor kehidupan.
Birokrasi merupakan cerminan dari masyarakat yang berangkutan. Oleh karena itu pola-pola hubungan, tata nilai maupun kultur birokrasi menggambarkan budaya atau tata nilai masyarakatnya. Dengan demikian sifat mental nilai budaya dan pandangan hidup yang dianut oleh birokrasi merupakan pengejawantahan dari jati diri masyarakat negara yang berangkutan.
Birokrasi memiliki peran sebagai katalisator (penghubung), stabilisator, dinamisator dari kehidupan masyarakatnya. Bahkan dapat dikatakan, birokrasi sebagai Agent of Change masyarakat. Demikian penting birokrasi, terutama dalam masyarakat yang masih berkembang seperti masyarakat Indonesia bahwa perubahan baik yang sifatnya evolusioner maupun revolusioner sering kali dimotori oleh kalangan pemerintah. Hal ini wajar karena birokrasi selain memiliki otoritas, juga memiliki sumber-sumber daya (baik sumber daya manusia maupun lainnya) yang dapat menggerakkan dan merubah tatanan dalam masyarakat baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan budaya.
Terminologi birokrasi dalam literatur Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Politik sering dipergunakan dalam beberapa pengertian. Sekurang-kurangnya terdapat tujuh pengertian dalam istilah birokrasi, yaitu :
1) Rational organization (organisasi yang rasional)
2) Organizational inefficiency (ketidakefisienan organisasi)
3) Rule of Officials (pemerintahan oleh para pejabat)
4) Public Administration (adminitrasi negara)
5) Administration by officials (administrasi oleh pejabat)
6) Type of 0rganization with specific characteristic and quality as hierarchies and rules (bentuk organisasi dengan ciri-ciri dan kualitas tertentu seperti hierarki dan peraturan-peraturan)
7) An essential quality of modern society (salah satu cirri yang esensial dari masyarakat modern)

Dari berbagai macam pengertian yang sering muncul dalam term birokrasi, dapat disistematiskan dalam tiga kategori, yaitu: pertama, birokrasi dalam pemgertian yang baik atau rasional (bureau-rationality); kedua, birokrasi dalam pengertian sebagai suatu penyakit (bureau pathology); dan ketiga, birokrasi dalam pengertian netral (value-free), artinya tidak terkait dengan pengertian baik atau buruk. Dalan pengertian netral ini birokrasi dapat diartikan sebagai : keseluruhan pejabat negara dibawah pejabat politik, atau keseluruhan pejabat negara pada cabang eksekutif, atau birokrasi dapat juga diartikan sebagai setiap organisai berskala besar (every big organization is bureaucracy).
Berdasarkan tugas pokok atau misi yang mendasari organisasi birokrasi, dibedakan ke dalam tiga kategori :
a. Birokrasi Pemerintah Umum, yaitu rangkaian organisasi pemerintah yang menjalankan tugas-tugas pemerintahan umum termasuk memelihara ketertiban dan keamanan, dari tingkat pusat sampai daerah.
b. Birokrasi Pembangunan, yaitu organisasi pemerintahan yang menjalankan salah satu bidang sektor yang khusus guna mencapai tujuan pembangunan, seperti pertanian, kesehatan, pendidikan, indutri. Fungsi pokoknya adalah development function atau adaptive function.
c. Birokrasi Pelayanan, yaitu unit organisasi pemerintahan yang pada hakikatnya merupakan bagian atau berhubungan dengan masyarakat. Fungsi utamanya adalah service (pelayanan) langsung kepada masyarakat.

3.1 Mengapa sistem administrasi negara (birokrasi) kita tidak dapat bereaksi dengan cepat dan tepat dalam menghadapi setiap perubahan kebijakan.

Baik faktor internal maupun eksternal harus terus diperbaiki agar birokrasi pemerintahan menjadi efisien dan efektif dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan negara. Upaya tersebut harus benar-benar nyata dan dilaksanakan secara konsisten dan berkesinamnbungan. Pada masa Orba, pendayagunaan birokrasi pemerintah cenderung setengah-setengah, walaupun rencananya sudah baik sebagaimana tertuang dalam Repelita.
Hingga saat ini, sistem administrasi negara kita tidak dapat bereaksi dengan cepat dan tepat dalam menghadapi setiap perubahan kebijakan di atas (terutama perubahan dalam arti pengurangan, penghapusan, dan penggabungan) instansi-instansi pusat, yang tentunya berdampak pada ketatalaksanaan dan SDM-nya. Belum lagi permasalahan SDM dan ketatalaksanaannya yang cukup rumit, seperti masalan mutasi, rotasi dan promosi pegawai yang harus didasarkan pada kriteria-kriteria kinerja yang dapat menghasilkan pegawai dan pimpinan yang berkualitas baik. Ketidaksiapan sistem administrasi negara tersebut juga tercermin dalam bidang ketatalaksanaan dan pengelolaan SDM-nya. Sebagai contoh, kebijakan mutasi, rotasi, dan promosi pegawai sering pula kurang mempertimbangkan kriteria kemampuan pegawai yang disepakati bersama dan transparan.
Salah satu penyebab hal di atas adalah rendahnya apresiasi terhadap administrasi negara oleh para aparat birokrasi pemerintahan, dan mungkin pula rendahnya keinginan aparat birokrasi untuk selalu memperbaiki sistem administrasi yang ada. Selama ini, pembangunan administrasi negara tertinggal jauh dan dilaksanakan setengah-setengah. Ada kecenderungan pula bahwa administrasi hanya dilihat dalam arti sempit, sebagai aktivitas tata persuratan, kearsipan, administrasi kepegawaian dan aktivitas lainnya yang bersifat pekerjaan-pekerjaan klerikal. Selain itu, ada pula kecenderungan anggapan bahwa setiap pegawai/orang yang berpendidikan tinggi (dari disiplin ilmu manapun) mampu memimpin unit kerja dan melaksanakan sistem administrasi dengan baik.
Padahal tidak selalu demikian. Seharusnya administrasi negara dilihat dalm arti luas sebagai aktivitas pengelolaan sumber daya aparatur yang tidak saja menyangkut pekerjaan-pekerjaan klerikal, tetapi terutama juga terhadap pekerjaan-pekerjaan yang besar misalnya manajemen pembangunan, administrasi kebijakan publik, dan sebagainya. Persoalan sekarang apakah setiap pimpinan birokrasi pemerintahan sadar, mengerti atau mau mengerti serta melaksanakan hal tersebut secara konsisten dan berkesinambungan. manajemen pembangunan, administrasi kebijakan publik, dan sebagainya. Persoalan sekarang apakah setiap pimpinan birokrasi pemerintahan sadar, mengerti atau mau mengerti serta melaksanakan hal tersebut secara konsisten dan berkesinambungan. Pertanyaan ini muncul, karena kita sering mendengar atau melihat bahwa setiap pergantian pimpinan maka berganti pula “sistem administrasi/manajemennya”.

Kondisi birokrasi pemerintahan Indonesia hingga saat ini tidak bisa diharapkan dapat memperbaiki dirinya sendiri tanpa “bantuan” dari sistem lain diluar birokrasi pemerintah. Yang dimaksud bantuan tersebut adalah “tekanan” dari sistem lain misalnya lembaga legislatif, LSM, parpol, dan lembaga kemasyarakatan lainnya. Namun sayangnya sistem-sistem tersebut belum dalam kondisi fit, dan masih harus memperbaiki dirinya sendiri. Bantuan sistem lain diluar birokrasi diperlukan, misalnya dalam peningkatan kualitas pelayanan, kita tidak bisa hanya berusaha memperbaiki kelembagaan, ketatalaksanaan, dan SDM unit kerja pelayanan tersebut; tetapi juga harus mendorong masyarakat (melalui social marketing) untuk berani protes apabila mendapat pelayanan buruk dari aparat pelayanan umum. Tentunya, keberanian protes tersebut tidak dalam bentuk destruktif.
Menanggapi pernyataan adanya indikasi pelaku birokrasi kurang improvisasi. Kurang improvisasinya birokrasi karena sistem yang berlaku terlalu standar/mekanik yang tidak menyediakan ruang yang cukup responsif, inovatif dan spesifikasi yang terlampau terkotak-kotak.
Empat hal tentang birokrasi : Pertama, birokrasi dimanapun terkait dengan kondisi sosial politik dan pemerintahan yang berlaku. Birokrasi sangat tergantung pada political setting/background. Kedua, pentingnya diterapkan secara konsisten sistem reward and punishment. Ketiga, memperbaiki birokrasi berarti memperbaiki manusianya dan untuk memperbaikinya perlu “pengerahan” sumber daya lain seperti para agamawan karena saat ini semakin sulit membedakan antara yang benar dan salah. Keempat, perlu ditingkatkannya pengawasan khususnya oleh lembaga-lembaga perwakilan.
Birokrasi timbul dari adanya pemerintahan dan pemerintahan lahir karena adanya kesepakatan anggota komunitas untuk menyerahkan atau memberikan mandat. Namun, semakin besar birokrasi, terjadi semacan gejala lupa akan mandat yang telah diberikan. Oleh karena itu birokrasi perlu melihat kembali mandat yang diberikan rakyat kepada pemerintah.
Berbagai perubahan yang berskala global secara cepat ataupun lambat akan sampai pula kepada masyarakat. Untuk mengantisipasi perubahan terebut, pemerintah dituntut untuk berpikir pro-aktif dengan cara mengatasi berbagai kelemahan yang ada dan menggali peluang-peluang yang ada.
Lingkungan yang dihadapi birokrasi dikategorikan dalam empat tipe, yaitu:
1) Lingkungan yang berubah relatif lambat dengan tuntutan masyarakat di dalamnya acak dan tidak berpola.
2) Lingkungan yang berubah dengan lambat tetapi mengandung kerawanan.
3) Lingkungan yang dalan bidang ekonomi di dominasi oleh satu atau beberapa perusahaan yang besar dan kuat.
4) Lingkungan yang berubah dengan cepat dan penuh gejolak.

Kondisi lingkungan turut memainkan peranan penting dalam menentukan konfigurasi struktur birokrasi dengan tanpa mengabaikan pedoman yang telah ditentukan secara nasional. Harus dimungkinkan adanya modifikasi sehingga benar-benar berfungsi dengan tingkat efisiensi, efektivitas dan produktivitas yang tinggi.
Dengan adanya globalisasi, teknologi dan perubahan social mengakibatkan dampak yang besar terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Karena perubahan-perubahan inilah maka kebijakan pemerintah haruslah mempunya standar pertanggungjawaban (Accountability) yang tinggi dan dapat diandalkan. Implikasinya jelas, pemerintah harus memberikan pelayanan yang lebih efektif dan Cost-efficient dalam keterbatasan anggaran yang ada.
Perubahan dalam penyelenggaraan birokrasi pemerintah harus mengacu:
• Birokrasi pemerintah harus mampu mengarahkan dan mengupayakan terwujudnya potensi dan inisiatif masyarakat dalam mengatasi permasalahan atau tuntutan kebutuhan.
• Birokrasi pemerintah harus mampu bersaing dalam memnerikan pelayanan (delivery of service) dengan menumbuhkan efisiensi, inovasi dan motivasi serta prestasi.
• Birokrasi pemerintah harus mengupayakan bagaimana menjelaskan kehendak atau keinginan pemerintah kepada masyarakat ketimbang mengatur masyarakat untuk tidak berbuat hal-hal yang tidak diinginkan oleh pemerintah.
• Penyelenggaraan pemerintah yang berorientasi kepada dampak hasil bukan atas bahan masukan yang diperlukan.
• Penyelenggaraan pemerintah yang berorintasi pada upaya memenuhi kebutuhan masyarakat bukan kepada kepentingan dan data prosedur birokrasi Pemerintahan.
• Penyelenggaraan pemerintah harus memiliki wawasan dan pandangan kewirausahaan.
• Penyelenggaraan pemerintah lebih memanfaatkan dan berorientasi kepada kekuatan mekanisme pasar dalam upaya mengarahkan (fasilitatif) prakarsa dan gerak perubahan masyarakat.

3.2 Apakah birokrasi yang besar dalam suatu good governance itu salah (penyakit birokrasi).

Mengapa birokrasi cenderung tumbuh dan membesar. Secara teori berkembangnya birokrasi lebih disebabkan kondisi sumber daya yang dimliki pemerintah dan negara. Pada saat time of plenty ketika uang negara sedemikian besarnya, uang terebut diarahkan untuk pos-pos dan kegiatan subsidi. Demikian halnya saat time of scarce, pemerintah menciptakan aneka pos dan kegiatan subsidi untuk melindungi penduduk miskin. Hal-hal inilah yang mendorong membesarnya birokrasi.
Birokrasi menjadi salah bilamana terjadi abuse of authority sehingga membahayakan birokrasi itu sendiri dan pada akhirnya birokrasi tidak lagi memikirkan kesejahteraan rakyat namun berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Oleh karena itu perlu diciptakan birokrasi yang efisien, efektif, anti korupsi. Yang perlu diperhatikan adalah karena pelayanan publik terus bertambah maka yang perlu dilakukan adalah reshaping birokrasi bukan hanya pengurangan birokrasi. Disamping itu perlu dipahami bahwa birokrasi pada institusi publik mempunyai kultur tersendiri berbeda dengan private bureaucracy.
Pengembangan good governance hakekatnya membangun konsensus mengenai ide-ide dan nilai-nilai bersama tentang mekanisme kelembagaan dan bagaimana melaksanakan sistem itu. Ini berarti perlu dibangun norma-norma berama di lingkungan birokrasi dengan tetap memperhatikan juridiksi masing-masing apakah sebagai unit pelaksana atau unit perencanaan. Norma yang dibangun perlu juga melakukan kompromi atau mengakomodasi berbagai individu dalam birokrasi dengan berbagai motif dan orientasinya.
Penciptaan birokrasi yang efisien, efektif, anti korupsi juga memiliki peran sebagai katalisator (penghubung), stabilisator, dinamisator dari kehidupan masyarakatnya. Bahkan dapat dikatakan, birokrasi sebagai Agent of Change masyarakat. Demikian penting birokrasi, terutama dalam masyarakat yang masih berkembang seperti masyarakat Indonesia bahwa perubahan baik yang sifatnya evolusioner maupun revolusioner sering kali dimotori oleh kalangan pemerintah. Hal ini wajar karena birokrasi selain memiliki otoritas, juga memiliki sumber-sumber daya (baik sumber daya manusia maupun lainnya) yang dapat menggerakkan dan merubah tatanan dalam masyarakat baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Sehingga bisa terhindar dari istilah

3.3 Dalam good governance, adakah perubahan peran birokrat seiring dengan terjadinya perubahan paradigma yang telah ada.

Kepemerintahan yang baik (good governance) merupakan issu yang paling mengemukan dalam pengelolaan administrasi publik dewasa ini. Tuntutan gencar yang dilakukan oleh masyarakat kepada Pemerintah untuk melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan yang baik adalah sejalan dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat disamping adanya globalisasi. Pergeseran paradigma kepemerintahan dari “rulling government” yang terus berproses menuju kepada “good governace”, dipahami sebagai suatu fenomena berdemokrasi secara adil. Buruknya kinerja birokrasi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan lambatnya kita bangkit mengatasi krisis multi dimensi yang terjadi. Kunci utama perubahan adalah konsep pelayanan oleh birokrat, yaitu bukan memberikan pelayanan secara struktural kepada atasannya dan golongan tertentu, akan tetapi berorientasi memberikan pelayanan kepada pelanggannya, yaitu masyarakat.
Munculnya fenomena baru mengenai perubahan peran birokrat dari pelaksana menjadi motivator, dinamisator dan fasilitator pembangunan serta sumber daya atau kemampuan objektif pemerintah daerah yang semakin terbatas, menimbulkan pemikiran dikalangan birokrat untuk meniru kelompok swasta yang tetap “exis” dan “survive” meskipun dengan sumber daya yang seadanya. Untuk itu perlu merumuskan kembali makna dan hakikat pelayanan publik dan mjenciptakan organisasi pemerintah daerah yang ramping tetapi kuat dan efisien. Birokrasi yang berorientasi prestasi mampu menciptakan pelayanan yang prima, mengutamakan kemanfaatan daripada hasil, dan berorientasi pada tujuan yang telah ditetapkan bersama. Sistem penyediaan layanan publik yang biasanya ditangani melalui mekanisme administratif menjadi suatu penyediaan pelayanan publik yang berdasarkan insentif pasar. Untuk itu, budaya birokrasi harus dapat membangun tumbuhnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, yang pada akhirnya dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan.
Salah satu penyebab jatuhnya birokrasi Weber itu menurut Bennis, karena lokus dan fokus penggunaan kekuasaan (power) dalam organisasi berubah. Dalam birokrasi Weber, kekuasaan itu lokusnya tersentralisasi dalam jabatan pimpinan yang menduduki hierarki tertentu. Sehingga sentralisasi kekuasaan sangat besar. Dalam era reinventing government ini, letak kekuasaan menyebar ke berbagai pihak. Focus penggunaan kekuasaan berubah. Dalam birokrasi Weber, kekuasaan digunakan untuk menjatuhkan sanksi, menghukum dan menakut-nakuti. Pada zaman reinventing goiverment, kekuasaan digunakan untuk menjalin kolaborasi, kemitraan dan kebersamaan.
Administrasi negara berkembang di negara maju sekarang mengarah keberpihakannya kepada rakyat (publik). Dengan demikian, sistem administrasinya menempatkan sistem yang mendukung pelayanan dan keberdayaan publik. Ini berarti sumbangan yang positif terhadap pertumbuhan birokrasi Pemerintah. Dengan demikian, memang ada yang harus kita ubah dalam hal birokrasi Pemerintah. Perubahan harus dilakukan meskipun akan memakan waktu yang cukup lama. Hal ini juga akan lebih lama lagi apabila tidak diakomodasi oleh figur kepemimpinan yang punya komitmen untuk kepentingan masyarakat dengan orientasi jauh ke depan.

SIMPULAN

Pada dasarnya governace memiliki arti atau berkonotasi baik, karena keberadaannya dimaksudkan untuk menjalankan pemerintahan dalam “mengatur” dan/atau “memfasilitasi” kegiatan pemerintah umum dan pembangunan. Ada tiga komponen yang terlibat dalam governance yaitu pemerintah, dunia usaha (swasta, commercial, society), dan rakyat pada umumnya (termasuk parpol). Hubungan ketiganya harus dalam posisi sejajar dan saling kontrol. Bila salah satu komponen lebih tinggi dari yang lainnya, maka akan terjadi dominasi kekuasaan atas dua komponen lainnya.
Didalam suatu kepemerintahan yang baik (good governance), akan sangat memberikan pengaruh atau kontribusinya terhadap perbaikan suatu sistem birokrasi. Sistem pemerintahan dan birokrasi pada masa Orde Lama, Orde Baru, maupun pada Reformasi ini, sebagian besar telah mengalami suatu perubahan. Perubahan dari paradigmanya yang meyebabkan perubahan pada sistem dan pengimplemetasiannya.
Dalam good governance tidak ada istilah dikriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Setiap masyarakat berhak atas pelayanan prima dari sistem birokrasi pemerintah. Sehingga dengan sendirinya akan timbul suatu kontrol sosial yang efektif.

DAFTAR PUSTAKA

 good_governance.bappenas.go.id
 J.B Kristiadi, 2004. Respon Administrasi Publik dalam Menghadapi Peluang dan Tantangan Global, Makalah Seminar.
 H.A Kartiwa, 2004. Repon Birokrasi Pemerintahan Daerah dalam Menghadapi Perubahan Lingkungan, Makalah Seminar.
 Sadu Wasistiono, 2002. Kapita Selekta Penyelenggaraan Pemerintahan Derah, Penerbit Fokusmedia.

Belum Ada Tanggapan to “GOOD GOVERNANCE”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: